R O A D S E R P
industri tekstil dan garmen

Pengaruh pandemi COVID-19 pada industri tekstil dan garmen di Indonesia terbilang cukup besar. Saat pandemi COVID-19 berawal lebih dari setahun lalu, banyak industri mengalami pukulan hebat, tak terkecuali sektor garmen dan tekstil. Dengan merebaknya penyebaran virus corona terutama oleh wisatawan dan orang-orang yang bepergian, banyak negara menutup perbatasannya, membuat proses impor-ekspor baik tekstil maupun produk tekstil terhambat.

Dampak yang ditimbulkan dari berbagai pembatasan selama pandemi juga tidak saja membuat permintaan menurun dan banyak pesanan dibatalkan secara sepihak, namun juga memengaruhi supply chain, di mana manufaktur kesulitan mendapatkan bahan baku produksi yang sebagian besar berasal dari China.

Meskipun pandemi COVID-19 mempengaruhi eksport tekstil dan produk tekstil di seluruh dunia, namun menurut Deasy Pane dan Donny Pasaribu, negara-negara berkembang merasakan dampak yang lebih hebat. Pasalnya, tekstil dan produk tekstil menjadi komoditi ekspor utama bagi banyak negara berkembang karena proses produksinya yang lebih menekankan tenaga buruh dan hanya membutuhkan sedikit pelatihan formal. Efek pandemi pada industri tekstil, mengutip East Asian Forum, dinilai sangat mengkhawatirkan karena sektor tersebut telah membuka lapangan kerja yang besar bagi banyak masyarakat di negara berkembang, termasuk Indonesia.

 

Foto dokumentasi pegawai garmen di Sritex

Di Indonesia sendiri, menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dari industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) telah mencapai 80% atau 2.1 juta pekerja.

Satu tahun berlalu, industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia mulai pulih. Meskipun perdagangan belum bisa disebut normal, menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia Rizal T Rakhman, kondisi industri tekstil nasional perlahan kembali meningkat. “Mei dan Juni adalah puncak tekanan terhadap industri sektor tekstil. Di Juli produksi rata-rata sudah hampir mendekati 50% bahkan garmen mungkin sudah lebih dari itu, ini dipicu awalnya oleh pembukaan PSBB sehingga pusat tekstil nasional kita dibuka,” ujar Rizal pada acara Market Review IDX Channel, Rabu (19 Agustus 2020).

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri garmen di Indonesia, terutama setelah pandemi COVID-19 berakhir?

Menurut Aryana Satria, Dosen Senior Departemen Manajemen FEB UI, ada 5 usulan strategis yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya saing garmen di Indonesia:

Pertama, mendorong penyelesaian perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa untuk menurunkan bea masuk sehingga ekspor produk tekstil dapat meningkat. Kedua, mendorong penyelarasan peraturan pemerintah. Misalnya saja, benang jahit jangan terlalu mahal dan di sektor hilir jangan terlalu murah, sehingga konsumen cenderung membeli barang impor.

Ketiga, mendorong penerapan teknologi terbaru untuk menekan biaya produksi agar lebih efisien. Keempat, mengurangi impor tekstil agar konsumsi produk lokal dapat meningkat. Serta kelima, meningkatkan produktivitas pekerja melalui berbagai aspek seperti menumbuhkan sifat positif, mendorong keterampilan, serta dialog sosial.

Related Post

Leave a Comment

erp indonesia

© 2021 Roads

Powered by 1Ci. All rights reserved.

Contact Us

Info@roads.id

(+62 22) – 6614726

Jl. Dangdeur Indah III No. 5, Sukajadi, Bandung, 40163

Follow Us