R O A D S E R P
tren industri retail

Tren industri retail di 2021 dipengaruhi salah satunya oleh pandemi COVID-19. Industri retail menjadi salah satu sektor bisnis yang terkena dampak pandemi COVID-19. Adanya larangan pemerintah untuk berkerumun dan himbauan untuk melakukan social distancing membuat orang-orang tidak lagi datang ke toko untuk berbelanja. Selain itu, menurut Hariyadi Sukamdani, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), faktor-faktor seperti pemotongan gaji hingga pemutusan hubungan kerja besar-besaran juga berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat selama pandemi COVID-19.

Akibatnya, bukan saja penjualan menurun, namun berbagai tantangan juga harus dihadapi retailer, baik yang menjual kebutuhan pokok maupun barang-barang mewah dan non-esensial. Dari consumer behavior yang berubah, supply chain yang terhambat, hingga operasional yang tidak bisa berjalan normal sebagaimana mestinya.

Ketidakpastian kapan pandemi berakhir membuat banyak pelaku bisnis di industri retail memilih untuk melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi digital dan menghadirkan cara baru untuk berbelanja. Di tahun 2021 ini, pelonggaran PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar dan dimulainya vaksinasi telah menciptakan sentimen positif yang berdampak pada pertumbuhan industri retail sendiri.

Tak lama lagi, konsumen akan bisa kembali berbelanja di toko secara langsung. Namun, beberapa tren yang muncul karena kondisi yang diciptakan COVID-19 diprediksi akan tetap berlanjut bahkan setelah pandemi berakhir.

Mengutip McKinsey, ‘Pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku konsumen, beberapa secara permanen.’

 

Credit foto: redflagdeals.com

1. Offline-Meet-Online Retail

Meskipun tren ini sudah muncul sejak sebelum pandemi, COVID-19 telah membuat orang-orang berbelanja secara online lebih sering dari sebelumnya, bahkan untuk barang-barang kebutuhan pokok yang biasanya dibeli di toko fisik seperti supermarket atau departemen store. Perilaku konsumen ini membuat retailer mencari berbagai cara inovatif untuk meningkatkan penjualan, seperti ruang virtual untuk mencoba produk atau konsultasi produk melalui video conference.

Integrasi antara toko offline dan proses berbelanja offline ini lah yang diprediksi akan meningkatkan tren OMO atau online-meet-offline yang telah dimulai sejak pertengahan 2017, di mana offline retailer akan berkolaborasi dengan platform e-commerce yang sudah ada seperti Shopee, Tokopedia, BukaLapak, Zalora, Blibli, dan lain-lain alih-alih membuat platform mereka sendiri.

Selain sebagai tempat transaksi, bukan tidak mungkin kalau nantinya fungsi toko fisik akan bertambah menjadi pick up point atau tempat mengambil barang-barang yang dibeli di platform online.

 

Credit foto: Uniqlo

2. Industri retail yang berbasis teknologi

Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, sudah saatnya retailer berinvestasi pada infrastruktur teknologi dan mengembangkan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung new consumer behavior. Dari gerai self-service menggunakan teknologi layar sentuh, layanan transaksi non-tunai, hingga instalasi interaktif di dalam gerai, teknologi dapat membantu mengurangi interaksi fisik.

Dari mulai aplikasi, digitalisasi dan otomatisasi operasional, hingga contactless shopping dan touchless technology, ada banyak inovasi teknologi yang dapat retailer lakukan untuk bertahan di tengah disrupsi digital dan ekonomi yang sedang berlangsung saat ini.

Tren phygital atau kombinasi antara retail physical dan digital yang memanfaatkan virtual reality (VR) dan artificial intelligence (AI) yang telah memasuki industri retail di India ini diprediksi akan berkembang dengan cepat di masa depan. Baik toko daring (online) maupun fisik diperkirakan akan semakin bergantung pada teknologi dan kecerdasan buatan untuk mencari tahu kebutuhan dan psikologi konsumen.

 

Credit foto: fanjianhua @Freepik

3. Opsi pembayaran yang fleksibel

Pandemi COVID-19 bukan saja mengubah cara konsumen berbelanja, namun juga melakukan pembayaran.

Di masa di mana bahkan orang-orang yang masih memiliki penghasilan tidak berbelanja sesering biasanya, retailer harus bisa memproses pembayaran kapanpun, di mana pun, lebih baik lagi jika tanpa ada kontak fisik. Teknologi pembayaran tanpa kontak fisik atau contactless memang sudah dikembangkan sejak bertahun-tahun lalu, namun pandemi COVID-19 mempercepat penerapannya, dan tren ini akan terus berlanjut di 2021.

Di Indonesia sendiri, ada banyak penyedia dompet digital seperti OVO, Go Pay, Dana, Link Aja, dan banyak lagi yang telah menyediakan fasilitas pembayaran contactless atau tanpa kontak fisik, bahkan sebelum pandemi COVID-19 dimulai. Konsumen hanya perlu membuka ponsel pintar mereka dan memindai barcode yang tersedia di masing-masing gerai. Adanya QRIS atau QR Code Indonesian Standard juga semakin meningkatkan fleksibilitas opsi pembayaran non-tunai.

Pembiayaan point-of-sale atau POS, atau beli sekarang bayar nanti (buy now pay later) juga akan menjadi tren teknologi di tahun 2021. Teknologi ini akan memberikan opsi pada pelanggan untuk melakukan pembelian tanpa membayar secara penuh di awal, yang akan sangat membantu di tengah-tengah dampak ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Related Post

Leave a Comment

erp indonesia

© 2021 Roads

Powered by 1Ci. All rights reserved.

Contact Us

Info@roads.id

(+62 22) – 6614726

Jl. Dangdeur Indah III No. 5, Sukajadi, Bandung, 40163

Follow Us